Cerpen Singkat: Kisah Manusia yang Biasa

della, nofita, veti, ummu

Di sudut desa Bacem, terdapat sebuah rumah kecil yang lebih mirip gubuk daripada sebuah rumah. Disana tinggal Pak Karjo, tetangga samping rumah Tomo. Pak Karjo tinggal beserta Istri dan ke-3 anaknya, anak pertamanya bernama Tunggal yang mau masuk SMA, anak kedua bernama Dwi yang masih dijenjang kelas 2 SMP dan anak ketiga bernama Tri yang baru berumur 6 tahun. Istri pak Karjo, bu Juminten berumur 34 Tahun, Selisih 12 Tahun dengan pak Karjo sendiri.

Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, pak Karjo menarik becak dengan nge-tem didepan tempat-tempat atau fasilitas umum, seperti stasiun, rumah sakit dan kadang juga pusat-pusat perbelanjaan.

Meskipun masyarakat sudah beralih ke transportasi umum berbasis online, namun dengan keterbatasan yang pak Karjo miliki ia tetap semangat menjalani aktivitasnya sehari-hari, meski ia tahu di masa pandemi seperti sekarang ini pendapatannya berkurang sangat drastis.

Sedangkan bu Juminten sendiri membantu keuangan keluarga dengan menjadi sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dikeluarga pak Mansur. Pak Mansur sendiri adalah camat desa Bacem dan rumahnya menjadi satu-satunya rumah paling besar di desa itu.

Meskipun pak Mansur sendiri sudah punya 2 ART tapi melihat kondisi keluarga pak Karjo, pak Mansur pun akhirnya ikut memperkerjakan bu Juminten. Maklum saja, pak Mansur sendiri mempersiapkan segala sesuatu mengenai pencalonan dirinya menjadi lurah desa Bacem, maka dari itu ia akhirnya merekrut bu Juminten sebagai tenaga lebih.

Hari minggu pagi di teras rumah yang sedikit dipaksakan untuk menjadi sebuah teras, Pak Karjo leyeh-leyeh sambil menyeruput kopi bikinan bu Juminten, istrinya itu dari pagi sudah berangkat menuju rumah pak Mansur.

Ia tak merokok atau lebih tepatnya ia sudah tak punya rokok. Dengan kondisi keuangan seperti sekarang ini, rasanya memenuhi kebutuhan anak lebih penting daripada harus merokok.

Sambil sesekali bersiul, pak Mansur menghibur diri di minggu pagi, sampai tiba-tiba Tunggal dan Dwi muncul. Wajah mereka tampak canggung, seakan tidak mau berbagi cerita tapi bapaknya sudah membaca wajah kedua anaknya itu.

“Duduk dulu sini, kalian mau cerita apa?”

Tunggal sang kakak bercerita kepada sang bapak bahwa mereka harus membelu HP untuk kebutuhan sekolah mereka.

“Ini permintaan sekolah pak” ucap Tunggal.

“Inggih pak, sekarang kata bu Guru saya dan teman-teman disuruh belajar dari rumah gara-gara Corona. Nah guru nanti mengabsen dan mengajar lewat media HP untuk bertatap muka” balas Dwi dengan wajah menunduk.

Sebenarnya Tunggal dan Dwi sadar bahwa permintaan mereka teramat berat, mengingat sang bapak hanya bekerja sebagai penarik Becak dan sang ibu yang menjadi ART. Bahkan Tunggal pernah menawarkan diri untuk membantu ibu kantin berjualan sambil sekolah, namun hal itu dilarang pak Karjo.

Ia hanya ingin anak-anaknya agar fokus sekolah. Ia ingin anaknya bisa berhasil, tidak seperti bapak dan ibunya. Tapi agar tidak ketinggalan pelajaran sekolah, mereka terpaksa meminta kepada bapaknya.

Pak Karjo murung, dahinya berkenyit, nafasnya berat namun ia berusaha tetap memasang wajah tegar. Ia bergumam dalam hati, sudah pemasukannya sebagai tukang becak menurun drastis, kini kedua anaknya pun meminta HP untuk media pembelajaran. Dihadapannya, kedua anaknya itu hanya tertunduk. Sadar bahwa keinginan mereka mungkin sudah terlalu berat untuk sang bapak.

Setelah menyeruput kopi yang sudah mulai dingin, pak Karjo berkata:

“Yasudah, bapak akan usahakan mencarikan HP untuk belajar kalian. Nanti bapak bicara dulu sama Ibumu ya”

Tunggal dan Dwi mengangguk sambil tetap tertunduk, mereka kemudian menyalimi tangan bapaknya. Tunggal tampak akan menangis melihat kondisi bapaknya, namun ia sadar itu bukan sepenuhnya keinginannya. Setelah itu mereka berdua masuk kedalam rumah.

Siang hari, bu Juminten pulang dari rumah pak Mansur. Hari sabtu dan minggu memang bu Juminten tetap masuk tapi hanya setengah hari saja. Setelah memasak untuk keluarga, bu Juminten menemani pak Karjo yang masih leyeh-leyeh di teras.

Baru saja bu Juminten duduk, pak Karjo langsung bercerita:

“Bu, Tunggal dan Dwi minta HP buat sekolah mereka, bagaimana? Apa keuangan kita cukup buat beli dua buah HP?”

“Ya ndak ada lah pak, ibu saja belum menerima gaji dari pak Mansur, bapak sendiri apa sudah ada pemasukan dari narik becak?”

“Ada buk, cuma nominalnya kecil”

“Yasudah, nanti malam ibu coba kerumah pak Mansur, nanti ibu bakal pinjam uang disana”

“Yasudah nanti bapak temenin ke rumah pak Mansur”

Ba’da Isya, pak Karjo dan bu Juminten pergi kerumah pak Mansur. Disana mereka disambut ramah oleh salah satu pembantu milik pak Mansur. Memang, di hari menjelang pemilihan lurah seperti ini pak Mansur menjadi sangat sibuk.

“Ada perlu apa pak dan bu Karjo?”

“Saya mau ketemu sama bapak bu”

“Oh iya, ditunggu dulu ya. Bapak masih ada diruangannya”

Meski sebagai camat banyak warga yang tidak seberapa suka dengan kinerja pak Mansur, tapi karena harta dan sawahnya cukup melimpah pak Mansur mantap mengajukan diri sebagai calon Lurah desa Bacem.

Sepintas pak Karjo dan bu Juminten takjub melihat isi rumah pak Mansur. Berbagai macam ornamen dan hiasan menghiasi seisi rumah, belum lagi jejeran lampu dengan gaya klasik eropa yang menggantung diatas. Berbanding terbalik dengan rumah pak Karjo yang hanya ada sarang laba-laba dipojok-pojok atas rumahnya.

15 menit menunggu, pak Mansur datang dengan pakaian yang rapi. Sepertinya ia baru saja habis sesi foto pemotretan. Dengan senyum pak Mansur menyambut

“Selamat malam pak Karjo, bu Juminten. Maaf karena sudah lama menunggu. Ada yang bisa saya bantu?”

“Inggih pak, maaf sebelumnya mengganggu aktivitas bapak. Saya dan istri mau meminjam uang pak”

“Meminjam uang untuk keperluan apa ya pak?”

“Untuk beli HP untuk anak saya pak, Tunggal dan Dwi, katanya untuk kegiatan sekolah mereka”

“Butuh uang berapa kira-kira pak Karjo?”

Pak Karjo diam, sambil menyenggol-nyenggol bu Juminten yang masih menghitung perkiraan harga dua HP.

“4 juta saja pak, itu sudah cukup” ujar bu Juminten.

Sejenak suasana hening, kemudian pecah karena salah satu pembantu pak Mansur datang mengantarkan minuman.

“Monggo pak, bu diminum dulu”

“Inggih, terima kasih”

Ucapan terima kasih pak Karjo dibalas oleh pak Mansur

“Baik pak, bu saya akan memberi pinjaman. Tapi ada syaratnya ya pak”

Pak Karjo dan bu Juminten saling pandang, kemudian bu Juminten memberanikan diri bertanya

“Syaratnya apa nggih pak?”

“Syaratnya mudah bu, cukup gaji bulanan ibu saya potong setengahnya per bulan sampai hutangnya lunas. Ditambah di pemilihan lurah nanti, bapak dan ibu harus bersedia memilih saya”

Sebenarnya ada pergolakan batin di diri pak Karjo dan bu Juminten. Mereka sadar bahwa kinerja pak Mansur sebagai camat tidak terlalu baik, tapi di sisi lain mereka membutuhkan uang itu untuk mencukupi kebutuhan belajar Tunggal dan Dwi.

Bu juminten memegang tangan pak Karjo, sambal mengangguk ia berusaha ikut meyakinkan pak Karjo. Sambil menarik nafas Panjang, pak Karjo akhinya mensetujui persyaratan dari pak Mansur.

Dengan senyum sumringah, pak Mansur pun mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tas kecilnya. Setelah dihitung pas, ia serahkan kepada pak Karjo.

Tangan pak Karjo sedikit gemetar. Dalam dirinya ia tidakk ingin memilih pak Mansur, tapi untuk masa depan anaknya ia rela mengorbankan hak memilih-nya.

“Jangan lupa nggih, pak bu, dukungan sampeyan sangat berarti bagi saya”

Pak Karjo dan bu Juminten mengangguk sambil menunduk, setelah itu mereka berdua serempak berucap:

“Terima kasih.”

Sumber : majapahitunesa.wordpress.com

Di Indonesia ini, banyak sekali kisah yang hampir mirip dengan keluarga pak Karjo. Hanya saja cerita mereka tak dapat terbang tinggi seperti kisah-kisah romantika palsu selebrita atau berita-berita penuh iklan di media.