Cerpen Singkat : Jejak Rasa dengan Segala Kenangan

Jejak Rasa dengan Segala Kenangan

Karya: Anggita Trisnawati

Rafan, laki-laki bertubuh tinggi yang gemar bermain sepak bola, ia juga pandai dalam mata pelajaran Matematika, Fisika dan Bahasa Inggris. Tak terpikir dibenak Arumi, laki-laki seperti Rafan pernah mengisi hari-harinya selama satu tahun. Arumi hanyalah gadis biasa yang merasa tidak pandai dalam segala hal, sejak Rafan hadir dihidupnya semua agapan itu seketika hilang.

Rafan seakan menumbuhkan banyak perubahan positif dalam hidup Arumi, Rafan memberikan petuah agar percaya dengan kemampuan diri, selalu memberikan semangat untuk mengejar apa yang ingin dicapai dan mengajarkan Arumi untuk selalu bersyukur dengan apa yang sudah ditakdirkan Tuhan. Tapi seorang Rafan tidak bisa selamanya disisi Arumi.

Saat itu, satu hari menjelang pelaksanaa ujian masuk PTN, Rafan pergi untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang. Padahal dulu Rafan dan Arumi pernah mempunyai impian yang sama untuk masuk ITB. Tapi ternyata Rafan mempunyai impian utama yang Arumi tidak tahu, ia ingin pendidikan setelah SMA dilanjutkan di luar negeri. Saat Rafan pergi, ia tidak memberitahukannya kepada Arumi.

"Aku merasa waktu cepat sekali berlalu, sekarang kita sudah kelas 12," ujar Rafan.

"Iya, padahal rasanya baru kemarin kita masuk kelas 10," kata Arumi. 

"Di kelas 12 ini, kita harus lebih rajin belajar untuk persiapan ujian kelulusan dan ujian masuk PTN." 

"Baiklah," kata Arumi. "Kamu ingin kuliah dimana setelah lulus SMA, Rafan?"

Rafan menjawab, "Aku ingin kuliah di ITB."

"Aku yakin kamu pasti bisa masuk universitas itu," ujar Arumi. 

"Kamu sendiri ingin kuliah dimana?"

"Aku tidak tahu, aku tidak yakin bisa lolos ujian masuk PTN."

"Jangan pesimis dulu, Arumi. Kita masih bisa belajar dengan giat untuk mempersiapkannya, mari masuk ITB bersamaku," ujar Rafan sambil menepuk pundak Arumi. 

"Aku akan berusaha," kata Arumi sambil tersenyum. 

Satu semester sudah berlalu, di semester dua kelas 12 sudah mulai disibukan dengan ujian kelulusan dan persiapan ujian masuk PTN yang akan dilaksanakan setelah ujian kelulusan selesai.

Rafan dan Arumi semakin giat belajar untuk mempersiapkannya. Mereka sering belajar kelompok bersama untuk membahas soal-soal dan materi yang telah diberikan oleh guru. Sampai akhirnya, ujian masuk PTN terhitung tinggal tiga hari lagi. 

"Rafan, aku takut nanti waktu pelaksanaan ujian tidak bisa mengerjakan," ujar Arumi

"Ujiannya masih tiga hari lagi, tapi kamu udah panik duluan. Nanti materi dan soal yang telah kita pelajari bisa hilang dari otak kalo kamu panik begini," kata Rafan. "Kamu harus tenang dan optimis."

Arumi menghela napas berat, "Baiklah, aku akan berusaha tenang."

Satu hari menjelang pelaksanaan ujian masuk PTN, Arumi menghubungi Rafan untuk mengajaknya belajar kelompok bersama. Namun, ponsel Rafan tidak aktif. Akhirnya, Arumi memutuskan untuk datang ke rumah Rafan. 

Arumi menekan bel rumah Rafan, tapi tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Namun tiba-tiba, perempuan separuh baya membukakan pintu untuk Arumi. 

"Neng Arumi, mari masuk neng," ajak Bi Sari asisten rumah tangga di kediaman Rafan. 

"Terima kasih Bi, saya di sini saja," ujar Arumi

"Neng cari Den Rafan ya?" tanya Bi Sari

"Iya Bi, Rafan ada di rumah?"

"Den Rafan sudah pergi neng ke bandara satu jam yang lalu, katanya akan berangkat ke Jepang."

"Jepang?"

"Iya Neng, Den Rafan medapatkan beasiswa kuliah di sana," kata Bi Sari membuat Arumi mematung di tempat. Mengapa Rafan tidak memberitahunya? 

Hari ujian masuk PTN telah tiba, Arumi mengikuti ujian tanpa adanya Rafan. Walaupun Rafan sudah tidak bersamanya, Arumi tetap mengikuti ujian masuk ITB. 

Dua minggu berlalu, hasil ujian diumumkan. Namun, Arumi belum mendapatkan hasil yang terbaik. Dia belum bisa masuk kampus impiannya. 

"Tidak apa-apa, tahun depan masih bisa ikut lagi," ujar Arumi menyemangati dirinya sendiri. 

Sekarang, sudah empat tahun berlalu Rafan meninggalkan Arumi tanpa adanya komunikasi antara keduanya. Namun kebersamaan dan kenanganya bersama Rafan, masih selalu teringat dibenak Arumi. Bohong, jika selama berteman dengan Rafan, Arumi tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar teman.

Arumi terbawa perasaan dengan perlakuan Rafan padanya, yang akhirnya membuat Arumi menyukai Rafan. Perasaan Arumi kepada Rafan tidak mudah dihilangkan begitu saja, mungkin sampai saat ini Arumi masih menyukai Rafan. Saat Rafan pergi, Arumi tidak marah padanya. Hanya saja Arumi merasa kecewa kepada Rafan. 

Tentang Arumi sekarang, akhirnya dia bisa masuk ITB satu tahun setelah kegagalannya. Saat ini, Arumi sudah menjadi mahasiswa semester enam jurusan teknik pangan di ITB. Arumi bahagia bisa masuk kampus impiannya, walaupun tidak bisa bersama Rafan lagi. 

della, nofita, veti, ummu