[LENGKAP] Pengertian dan Hal Yang Perlu Diketahui Tentang BUSI

busi

Mungkin Kalian masih ragu untuk memilih/memakai Busi yang sesuai untuk mesin kendaraan Kalian. mudah-mudahan uraian singkat di bawah ini dapat membantu. 

Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil pengapian, akan disalurkan melalui elektroda tengah dan elektroda massa busi berupa percikan bunga api Kemampuan dalam menghasilkan bunga api pada busi tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut :
  1. Bentuk Elektroda Busi Permukaan elektroda busi yang sudah membulat (cembung/tidak rata) akan mempersulit loncatan bunga api, sedangkan bentuk persegi atau runcing dan tajam akan mempermudah loncatan api. Elektroda tengah busi akan membulat/cembung setelah dipakai dalam waktu lama, oleh karena itu loncatan bunga api akan menjadi lemah dan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian sebaliknya elektroda yang tipis atau tajam akan mempermudah percikan bunga api, akan tetapi umur penggunaannya menjadi pendek karena lebih cepat aus. 
  2. Celah/Gap Elektroda Busi Bila celah/gap elektroda busi besar, bunga api akan menjadi sulit melompat dan tegangan koil pengapian yang diperlukan menjadi lebih tinggi. Celah/gap busi yang tedalu besar juga mengakibatkan kebutuhan tegangan untuk me-'loncatkan bunga api lebih tinggi. Jika sistem pengapian tidak dapat memenuhi kebutuhan tsb. mesin mural hidup tersendat sendat pada beban penuh. Isolator isolator bagian tegangan tinggi cepat rusak karena dibebani tegangan pengapian yang luar biasa tingginya. Mesin akan sulit dihidupkan. Elektroda busi yang aus. berarti celahnya bertambah, loncatan bunga api menjadi lebih sulit juga akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian. Sedangkan celah/gap elektroda busi yang terlalu kecil, mengakibatkan loncatan api menjadi lemah/kecil dan Elektroda cepat kotor, khusus pada mesin 2tak.
  3. Tekanan Kompressi Bila tekanan kompresi lebih tinggi, maka bunga apipun akan menjadi semakin sulit untuk meloncat dan tegangan yang dibutuhkan semakin tinggi, hal inu juga terjadi pada saat beban berat dan kendaraan bejalan lambat dengan kecepatan rendah dan katup gas terbuka penuh, (misalnya kendaraan dalam keadaan menanjak). 
Ledakan tekanan pembakaran campuran bensin-udara akibat loncatan bunga api pada busi disebut pembakaran, sedangkan pembakaran itu tidak terjadi bersamaan pada saat busi meloncatkan bunga api. 

Pada waktu loncatan bunga api terjadi, maka titik bunga api mengaktifkan pembakaran molekul campuran bensin-udara dan merambat kesemua arah yang akan menimbulkan tekanan pembakaran. 

Cepat perambatan api ini akan tertahan oleh suhu elektroda busi yang cukup rendah dan suhu elektroda yang rendah juga akan menyerap panas dan cenderung memadamkan rambatan api yang sebelumnya sudah mulai menyala, oleh karena itu diperlukan titik nyala api yang cukup kuat agar dapat mempertahan rambatan api pada campuran bensin-udara. 

Bila titik loncatan bunga api terlalu kecil, tidak akan mampu membakar campuran bensin-udara, akibatnya terjadi kesalahan pembakaran.

Tingkat Panas Busi 

Tingkat panas dari suatu busi adalah jumlah panas yang dapat salurkan/dibuang oleh busi. Busi yang dapat menyalurkan/membuang panas lebih banyak disebut busi dingin, karena busi itu selalu dingin, sedangkan busi yang lebih sedikit menyalurkan panas disebut busi panas, karena busi itu sendiri tetap panas. 

Pada busi terdapat kode abjad dan angka yang menerangkan struktur busi, karakter busi dan lain lain. Kode-Lkode tersebut berbeda beda tergantung pada pabrik pembuatnya, tetapi biasanya semakin besar nomomya menunjukkan semakin besar tingkat penyebaran panas; artinya busi makin dingin. Dan semakin kecil nomomya busi semakin panas. 

Batas suhu operasional terendah dari busi disebut dengan self cleaning temperature (busi mencapai suhu membersihkan dengan sendirinya), sedangkan batas suhu tertinggi disebut dengan istilah pre ignition, dimana busi akan dapat menyalakan campuran bensin-udara dengan sendirinya tanpa meloncatkan bunga api (busi terlalu panas sehingga dapat membakar campuran dengan sendirinya). 

Busi dapat bekerja dengan balk bila suhu elektroda tengahnya sekitar 450 sampai 950 derajat C Busi yang ideal adalah busi yang mempunyai karakteristik yang dapat beradaptasi terhadap semua kondisi operasional mesin mulai dari kecepatan rendah sampai kecepatan tinggi.

Bila temperatur elektroda tengah kurang dari 450 derajat C, maka akan terbentuk karbon oleh pembakaran campuran bensin-udara yang tidak sempuma dan akan melekat pada permukaan isolasi porselin busi, sehingga menurunkan tahanan/resistance dengan rumahnya, akibatnya, tegangan tinggi yang diberikan ke elektroda tengah akan menuju ke massa tanpa meloncat dalam bentuk bunga api pada celah eleklroda, sehingga mengakibatkan tarjadinya kesalahan pembakaran. 

Untuk pembakaran yang sempuma dibutuhkan temperatur 450 derajat C atau lebih. Pada suhu tersebut karbon pada insulator akan terbakar habis. Temperatur ini disebut self cleaning temperature (suhu busi dapat bersih dengan sendirinya) 

Bila suhu elektroda tengah melebihi 950 derajat C, maka elektroda busi akan menjadi sumber panas yang dapat membakar campuran bahan bakar tanpa adanya bunga api, hal ini disebut dengan istilah pre ignition, jika terjadi pre ignition, maka daya mesin akan turun, karena waktu pengapian tidak lepat, bisa mengakibatkan elektrroda busi atau bahkan piston menjadi retak, leleh sebagian atau bahkan lumer, oleh sebab itu temperatur elektroda harus dipertahankan di bawah 950 derajat C. 

Busi dingin mempunyai insulator yang lebih pendek, karena permukaan penampang yang berhubungan dengan api sangat kecil sehingga rute penyebaran panasnya lebih pendek, jadi penyebaran panasnya sangat baik dan suhu elektroda tengah tidak naik terlalu tinggi, oleh sebab itu jika dipakai busi dingin pre ignition lebih sulit terjadi. 

Sebaliknya karena busi panas mempunyai insulator bagian bawah yang lebih panjang, maka luas permukaan yang berhubungan dengan api lebih besar, rute penyebaran panas lebih panjang, akibatnya temperatur elektroda tengah naik cukup tinggi dan self cleaning temperature dapat dicapai lebih cepat, meskipun pada kecepatan yang rendah dibandingkan dengan busi dingin.


Demikian pembahasan kali ini semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kalian, terima kasih sudah mampir. Jika kalian ingin bertanya silahkan komentar dibawah ya.